Jumat, 15 Februari 2013

Aman berhubungan seks saat hamil

0 komentar
Oleh: Marmi Panti Hidayah

Berhubungan seks merupakan kebutuhan dasar pasangan suami istri. Namun bagaimana jika sang istri dalam kondisi hamil? Adakah rambu-rambu yang harus diwaspadai?

Sekretaris Jenderal Pengurus Nasional Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI), dr Bona Simanungkalit, DHSM, M.Kes mengungkapkan ada dua pendapat dalam masalah ini. Pertama, beberapa pakar berpendapat di tiga bulan pertama (trimester pertama) dan tiga bulan terakhir kehamilan (trimester ketiga) sebaiknya sperma tidak dikeluarkan di dalam vagina.

Alasan pendapat beberapa pakar tersebut, sperma mengandung prostaglandin yang memungkinkan melebarkan mulut rahim atau serviks. Kondisi ini dikhawatirkan bakal mengakibatkan terjadinya keguguran,” kata dokter yang berkantor di Puri Matahari Persada Jalan Laladon Raya, Bogor.

Pendapat kedua, ada yang berpendapat hubungan seksual saat hamil boleh dilakukan kapan pun asal atas dasar suka sama suka. Jangan sampai ada pemaksaan saat sang istri sedang tidak mau berhubungan. Jadi boleh dilakukan asal kedua pihak merasa nyaman.

“Kalau pendapat saya sendiri cenderung melihat kasusnya,” kata dokter Bone. “Bila wanita tersebut tidak sehat dan sering mengalami keguguran, suami jangan mengeluarkan sperma di dalam saat berhubungan seks.”

Apakah dampak sperma itu bisa disiasati dengan penggunaan kondom? Tentu saja. Namun dokter yang pernah mengikuti pendidikan Seksologi di Fakultas Kedokteran Udayana, Denpasar ini mengatakan, tidak semua laki-laki mau berhubungan seks dengan cara begitu.

Karena itu, sebaiknya setiap wanita hamil berkonsultasi ke dokter, tidak hanya memantau kondisi kandungannya tapi juga masalah seksualitasnya. Bahkan, jika perlu berkonsultasi ke psikolog, karena wanita yang baru pertama kali hamil biasanya merasa tidak nyaman dengan perubahan pada tubuhnya. Dalam konsultasi ini bisa diketahui kondisi kehamilan dan bagaimana rekomendasi dokter terkait hubungan seks yang aman.

Dia memaparkan, berhubungan seks sangat hamil jelas bermanfaat, karena kehidupan seks adalah kebutuhan dasar setiap mahluk hidup, dan berhubungan seks adalah hak bagi perempuan dan laki-laki yang sudah menikah. Tentu saja selagi hubungan seks bisa dilakukan secara nyaman dan penuh kasih sayang.

Diakui dr. Bona, ada pria yang saking sayangnya pada sang istri, malah tidak mau berhubungan seks begitu kandungan istrinya membesar. Tanpa disadari sikapnya ini justru bisa menyinggung perasaan sang istri.

“Coba bayangkan bagaimana perasaan sang istri bila suaminya menghindari hubungan seks?” katanya.

Mengenai posisi berhubungan seks saat hamil, “Sebaiknya memilih posisi yang nyaman untuk ibu yang sedang hamil. Misal bagaimana posisi yang baik agar perutnya tidak tertekan,” jelasnya.

Berhubungan seks tidak berdampak pada si jabang bayi, karena di dalam perut ibu, si jabang bayi dalam kondisi aman terbungkus dan dilindungi air ketuban. Hubungan seks juga tidak akan menyisakan bercak-bercak sperma di tubuh bayi sebagaimana anggapan masyarakat awam.

Selama kehamilan di mana posisi kepala bayi masih di atas (belum di jalan lahir), hubungan seks secara nyaman masih bisa dilakukan. Berbeda bila posisi kepala bayi sudah ada di jalan lahir atau sudah pembukaan, sebaiknya hindari berhubungan seks.

Logikanya sederhana, tidak ada masalah dengan berhubungan seks saat hamil, karena ada cairan ketuban yang melindungi bayi. “Tetapi apakah ketika mendekati kelahiran masih mau berhubungan seks? Sebaiknya tunggulah dulu sampai melahirkan,” ujar dr Bona.
Continue reading ...

3 Hal Lain yang Bikin Anda Tak Bisa Ereksi

0 komentar
Sebah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine menyebutkan bahwa pria yang mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasi disfungsi ereksi malah akan menghancurkan kehidupan seksual mereka.



Namun bukan berarti kesalahan ada pada obat-obatan tersebut. Penelitian lebih lanjut mengungkap bahwa ada 3 penyebab lain yang dapat mengakibatkan seseorang mengalami disfungsi ereksi, yaitu:

    Gangguan dan Tekanan

    Gangguan dan tekanan bisa menjadi faktor yang dapat mengakibatkan seseorang mengalami disfungsi ereksi, ungkap sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal Behaviour Research and Therapy. Peneliti mengumpulkan 48 orang dan meminta mereka untuk menyaksikan film dewasa. Tubuh partisipan juga dimonitor menggunakan peraltan khusus untuk mengetahui tingkat rangsangan yang dialami masing-masing orang. Hasilnya, hampir semua peserta mengalami penurunan ereksi ketika terganggu dengan suara interkom saat asik menonton film tersebut.
    Kulit yang Terlalu Kering

    Menurut Journal of Sexual Medicine, orang yang mengalami eksim, yaitu kondisi alergi pada kulit berupa kulit bersisik dan ruam yang gatal. Orang dengan kondisi ini memiliki risiko 60 persen lebih tinggi mengalami disfungsi ereksi dibanding pria sehat. Mengapa demikian? Para peneliti menyimpulkan bahwa peradangan yang mendasari kulit, terutama di daerah organ seksual, dapat mempengaruhi aliran darah di arteri, sehingga dapat menggangu aliran darah menuju organ seksual dan menyebkan disfungsi ereksi.

    Salah satu solusi untuk mengurangi risiko peradangan pada kulit adalah dengan meningkatkan konsumsi minyak ikan. Penelitian menunjukkan bahwa minyak ikan tidak hanya mengurangi peradangan, tetapi juga membantu menurunkan trigliserida dan meningkatkan kolesterol baik (HDL) sekaligus mengendalikan tekanan darah.
    Air Mata Wanita

    Menjadi sedih dan melihat air mata wanita ternyata dapat menurunkan kadar testosteron dalam tubuh, ungkap sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Science. Penelitian dilakukan pada 24  pria. Mereka diminta untuk mengendus air mata yang dikumpulkan dari perempuan yang menonton film sedih. Kelompok lainnya diminta mengendus larutan garam. Kemudian diminta melihat berbagai pose wanita yang ditampilkan dalam slide foto.

    Hasilnya, mereka yang mengendus larutan air mata mengalami penurunan libido terhadap wanita. Hari berikutnya, percobaan diulang. Tapi kali ini air mata dibandingkan dengan air tawar. Meski para peserta tidak bisa membedakan mana aroma air mata dan air tawar, hasil yang diperoleh tetap sama.

Cemburu bisa Tingkatkan Kemampuan Ereksi!

Ketika pasangan Anda terlihat dekat dengan pria lain, bisa jadi Anda akan mengalami ereksi yang lebih kuat, ungkap sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Sociology. Peneliti mengklaim bahwa ketika pasangan Anda dekat dengan pria lain, secara psikologis gairah seksual akan meningkat akibat cemburu. Kobaran gairah itu secara tidak sadar didorong oleh perasaan takut kehilangan, perasaan bersaing, imajinasi liar, tidak mau kalah, dan sebagainya. Dan inilah yang dapat menyebabkan seorang pria lebih mudah mengalami ereksi.

Akan tetapi, kondisi ini tentu berbeda pada tiap orang dan tidak bisa  digeneralisasi. Ada pasangan yang bila cemburu karena suatu hal kemudian melampiaskannya dalam bentuk permainan ranjang yang panas.

Namun, ada juga pasangan yang justru karena cemburu malah enggan “menyentuh” pasangannya. Di sinilah dibutuhkan kejelian Anda untuk mengamati efek cemburu itu sendiri.

Oleh karena itu, kenali penyebab disfungsi ereksi agar Anda menemukan cara yang tepat  untuk mengatasinya! (dan)

BACA JUGA : Ejakulasi Dini, Atasi dengan 3 Cara ini!
Continue reading ...

Hati-hati! Konsumsi Viagra Bisa Bikin Impotensi

0 komentar
Suka mengonsumsi obat-obatan penambah libido? Sebaiknya Anda berhenti dari sekarang. Pasalnya, pria muda yang menggunakan Viagra dan Cialis lebih cenderung untuk mengembangkan ketergantungan psikologis pada obat-obatan tersebut, dan yang paling berbahaya, bisa membuat Anda sulit ereksi alias impotensi!


“Bagi pria-pria muda dan sehat yang menggunakan obat disfungsi ereksi (ED) untuk bersenang-senang, semakin banyak penggunaan obat ini lebih sering dikaitkan dengan rendahnya keyakinan dalam mencapai dan mempertahankan ereksi, yang kemudian dikaitkan dengan menurunnya fungsi ereksi,” ungkap ketua penulis studi Christopher Harte, dari VA Boston Healthcare System, seperti dikutip New York Daily News.

Dalam penelitiannya, Harte meninjau data lebih dari 1.200 pria berusia rata-rata 22 tahun. Diantara mereka, sebanyak 72 orang mengaku sebagai pengguna obat-obatan tersebut yang bertujuan untuk bersenang-senang. Sementara itu, sekitar 1.111 orang tidak menggunakan obat ED.

Dan, 24 orang lainnya mengaku diberi resep obat oleh dokter mereka dengan alasan kondisi medis. Tak hanya itu, mereka juga menanggapi survei online tentang fungsi ereksi, orgasme, gairah seksual, dan apakah menggunakan obat ED dan seberapa sering. Mereka juga ditanyakan tentang tingkat percaya diri dalam kemampuan untuk mencapai dan mempertahankan ereksi.

Dibandingkan dengan pria yang tidak menggunakan obat-obatan tersebut, pengguna ED melaporkan menurunnya kepercayaan diri untuk ereksi dan kepuasan dengan ereksi mereka.

Harte juga mencatat bahwa menurunnya kepercayaan diri ini dikaitkan secara negatif dengan fungsi ereksi. Hasil penelitian ini sudah dipublikasikan dalam The Journal of Sexual Medicine. Well, mari kita hentikan konsumsi sebelum terlambat!
Continue reading ...

Disfungsi Ereksi

0 komentar
Disfungsi ereksi atau impotensi adalah ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi dalam mencapai kepuasan seksual. Disfungsi ereksi berbeda dari kondisi atau keadaan lain yang berhubungan dengan gangguan seksual pada pria, seperti kurangnya hasrat seksual (penurunan libido) dan gangguan pada ejakulasi dan orgasme. Tingkat keparahan disfungsi ereksi sangat bervariasi, dari pasien yang dapat mencapai dan mempertahankan ereksi namun sangat singkat sampai tingkat dimana seseorang tidak mampu mencapai ereksi sama sekali.



Disfungsi ereksi dapat mengenai pria berbagai macam usia. Namun umumnya mengenai kelompok usia tua. Menurut penelitian dari Massachusetts, disfungsi ereksi meningkat dari 5% pada pria di kelompok usia 40 tahun hingga 15% pada pria di kelompok usia 70 tahun keatas. Penelitian di Belanda menemukan bahwa disfungsi ereksi pada berbagai macam tingkat keparahan terjadi pada 20% pria usia 50-54 tahun, dan 50% pria usia 70 tahun. Penelitian lainnya mengungkapkan kira-kira 35% pria usia 40-70 tahun menderita disfungsi ereksi dengan tingkat keparahan moderate dan severe, dan 15% dengan tingkat keparahan mild.

Faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi adalah: usia tua, penyakit jantung, hipertensi, kencing manis (diabetes mellitus), kerusakan saraf, tingkat kolesterol yang tinggi dalam darah, perokok, penyalahgunaan beberapa substansi (mariyuana, heroin, kokain, alkohol), tingkat hormon testosterone yang rendah, obat-obatan dengan efek samping disfungsi ereksi (obat anti-hipertensi, anti depresi, antihistamine), stress, depresi atau tingkat kecemasan yang tinggi.

Pemeriksaan fisik pada pasien dengan disfungsi ereksi dapat mengungkapkan apakah penyebabnya karena kelainan fisik atau bukan. Bila penis tidak memberikan respons pada tes perabaan maka kemungkinan penyebabnya adalah kelainan pada sistem saraf. Bila pada pemeriksaan didapatkan testis dengan ukuran kecil dengan buah dada yang membesar (gynaecomastia) maka kemungkinan penyebabnya adalah permasalahan hormon. Kelainan bentuk pada penis seperti penis yang membengkok dan nyeri saat ereksi juga dapat merupakan penyebab disfungsi ereksi nantinya.

Beberapa pemeriksaan untuk mengevaluasi disfungsi ereksi adalah: pemeriksaan darah dan urin lengkap, kolesterol darah, gula darah, fungsi hati, fungsi ginjal, testosterone, hormon-hormon lainnya seperti LH, prolaktin, dan kortisol. Pemeriksaan ultrasound (USG) penis dan testis dilakukan untuk mengetahui ukuran dan struktur testis.

Tes menggunakan injeksi zat prostaglandin terkadang dilakukan untuk mengetahui aliran darah penis. Prostaglandin diinjeksi secara langsung ke salah satu bagian penis. Hal ini akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah sehingga darah akan mengalir ke penis dan ereksi akan terjadi. Apabila terjadi ereksi maka dapat dipastikan aliran darah ke penis normal. Hasil ini akan memberikan informasi mengenai pilihan pengobatan yang akan diberikan nantinya.

Pemantauan ereksi yang terjadi saat tidur (nocturnal penile tumescence) dapat membantu membedakan apakah disfungsi ereksi yang terjadi dikarenakan faktor fisik atau psikis. Pemeriksaan ini biasanya menggunakan selotip khusus yang dilingkarkan ke penis saat malam sebelum tidur. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi mengenai intensitas dan durasi ereksi yang terjadi. Apabila ereksi nokturnal tidak terjadi maka hampir dapat dipastikan bahwa penyebab disfungsi ereksi adalah faktor kelainan fisik.

Stimulasi vibrasi dapat digunakan untuk mengetahui fungsi saraf penis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara meletakkan suatu elektroda pada batang penis lalu dilakukan vibrasi bertingkat hingga pasien merasakan sensasi ereksi. Pemeriksaan ini adalah suatu metode skrining untuk mengetahui kelainan saraf sensorik sebagai salah satu penyebab disfungsi ereksi.

Pemeriksaan psikososial menggunakan teknik wawancara dan kuesioner juga dapat memberikan informasi psikologis pasien. Partner seksual pasien juga sebaiknya diwawancarai untuk menentukan ekspekstasi dan persepsi pasien dan partner seksualnya saat bersenggama.

Beberapa saran dan pengobatan yang biasanya diberikan oleh dokter pada pasien dengan disfungsi ereksi sesuai dengan tingkat keparahannya adalah: memperbaiki pola dan gaya hidup (seperti berhenti merokok dan lebih banyak berolahraga), psikoterapi, mengkonsumsi obat (seperti sildenafil, verdenafil, atau tadalafil), menyuntikkan obat ke dalam penis (intracavernosal injection), memberikan alat vakum pada penis, dan yang terakhir adalah dengan penile prosthesis (implan yang ditanam pada penis sehingga pasien dapat mengatur ereksi).
Continue reading ...

Mengenal Penyakit Pembesaran Prostat Jinak

0 komentar
Prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang letaknya dibawah kandung kemih dan membungkus bagian belakang uretra (saluran kencing bawah). Prostat berukuran kira-kira 4 x 3 x 2,5 cm dengan berat kurang lebih 20 gram. Prostat memproduksi cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulat.


Cairan yang diproduksi oleh prostat ini dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat ini kurang lebih sebesar 25% dari seluruh volume ejakulat. Selama dalam perjalanan hidup seseorang, prostat dapat mengalami pembesaran jinak yang dapat menyumbat saluran kencing.

Pertumbuhan kelenjar prostat sangat tergantung pada salah satu hormon yaitu hormon testosteron. Hormon testosteron akan diubah di dalam prostat menjadi dihidrotestosteron. Dihidrotestosteron inilah yang memacu sel-sel dalam kelenjar prostat untuk memproduksi protein tertentu yang berujung pada pembesaran kelenjar prostat.

Pembesaran jinak pada kelenjar prostat sudah dapat terjadi pada usia 30-40 tahun. Keadaan ini dialami oleh 50% pria berusia 60 tahun dan sekitar 80% pria berusia 80 tahun. Pembesaran kelenjar prostat mengakibatkan terganggunya aliran kencing sehingga menyebabkan gangguan saat berkemih. Karena proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan, efek perubahannya juga terjadi secara perlahan-lahan.
Atasi Pembengkakan Prostat Anda Segera Di Sini!
Pembesaran kelenjar prostat dapat menimbulkan gejala-gejala sumbatan dan iritasi saluran kemih yang dikenal sebagai lower urinary tract symptoms (LUTS). Gejala-gejala sumbatan dapat dirasakan penderita berupa berkemih yang tersendat-sendat, tidak lampias setelah buang air kecil, pancaran air kencing yang lemah, adanya urin yang menetes saat akhir kencing, serta harus mengedan saat buang air kecil. Gejala iritasi dapat dirasakan oleh pasien berupa seringnya buang air kecil, keinginan untuk buang air kecil yang tidak tertahankan, sering kencing di malam hari, dan adanya rasa nyeri saat buang air kecil.

Jika tidak diobati, pembesaran prostat jinak ini dapat menjadi lebih parah karena adanya air kencing yang masih tersisa di dalam kandung kemih, maka dapat menimbulkan tertahannya bakteri sehingga dapat menimbulkan infeksi saluran kemih.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter untuk menilai keparahan keluhan pasien yang menderita pembesaran prostat jinak ini adalah dengan menggunakan sistem skoring yang secara subyektif diisi sendiri oleh pasien. Sistem skoring ini disebut sebagai IPSS (International Prostatic Symptom Score). Dari skoring tersebut maka gejala pembesaran prostat jinak ini dapat dibagi menjadi 3 derajat yaitu ringan, sedang, dan berat. Pemeriksaan lain yang akan dilakukan oleh dokter adalah dengan melakukan pemeriksaan colok dubur pasien yang salah satu fungsinya adalah mengetahui konsistensi prostat yang berguna untuk mengetahui apakah terjadi pembesaran prostat jinak atau ganas. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan laboratorium, kadar penanda tumor prostat, foto rontgen, dan pemeriksaan USG melalui anus. Pemeriksaan tambahan lain yang biasanya dilakukan adalah pengukuran jumlah sisa urin dalam kandung kemih setelah kencing dan pengukuran pancaran air seni.

Pengobatan pada pasien yang menderita gejala pembesaran prostat jinak didasarkan pada berat ringannya gejala yang dikeluhkan oleh pasien. Tidak semua pasien pembesaran prostat jinak harus menjalani pembedahan. Beberapa pasien yang mengeluh gejala ringan dapat sembuh sendiri tanpa mendapatkan terapi apapun. Pasien yang tidak mendapatkan terapi apapun biasanya akan diberi nasehat agar keadaannya tidak memburuk.

Terapi menggunakan obat-obatan pada pasien pembesaran prostat jinak salah satunya bertujuan untuk mengurangi volume prostat dengan cara menurunkan kadar hormon testosteron. Ekstrak tumbuh-tumbuhan juga dipercaya dapat dipakai untuk memperbaiki gejala pembesaran prostat jinak seperti ekstrak saw palmetto.

Terapi lainnya dan merupakan terbaik pada pasien pembesaran prostat jinak saat ini adalah melalui pembedahan. Pembedahan merupakan terapi paling baik karena hasilnya dapat dilihat dan diketahui dengan cepat. Pembedahan direkomendasikan pada pasien pembesaran prostat jinak yang tidak menunjukkan perbaikan dengan obat-obatan, infeksi saluran kemih berulang, gagal ginjal, dan timbulnya batu saluran kemih akibat sumbatan saluran kemih bagian bawah. Selain pembedahan terbuka, metode lainnya yang sering dipakai adalah dengan metode TURP (Trans Urethral Resection of the Prostate) yaitu jaringan prostat yang menyumbat dibuang melalui sebuah alat yang dimasukkan melalui uretra (saluran kencing).
Continue reading ...

Ejakulasi Dini

0 komentar
Pengertian ejakulasi dini adalah ejakulasi yang terjadi terlalu singkat. Beberapa kriteria digunakan oleh para ahli dalam mendefinisikan ejakulasi dini seperti berdasarkan waktu terjadinya ejakulasi (misalnya, kurang dari 2 menit); ketidakmampuan menahan ejakulasi sampai pasangannya mencapai orgasme; dan kemampuan pria mengendalikan ejakulasi agar terjadi sesuai dengan keinginannya.


Berdasarkan tingkat keparahan, ejakulasi dini dapat dibagi menjadi tiga jenis:

    Ejakulasi dini ringan : ejakulasi terjadi setelah hubungan seksual berlangsung dalam beberapa kali penetrasi singkat.
    Ejakulasi dini sedang : ejakulasi terjadi setelah penis masuk ke vagina.
    Ejakulasi dini berat : ejakulasi terjadi saat penis menyentuh kelamin wanita bagian luar. Beberapa pria bahkan sudah mengalami ejakulasi sebelum penisnya menyentuh kelamin wanita.

Ejakulasi dini akan mempengaruhi tingkat kepuasan hubungan seksual pria dan pasangannya dan dapat berpengaruh terhadap keharmonisan rumah tangga. Oleh karena itu ejakulasi dini harus diobati dan tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Penyebab ejakulasi dini dibagi menjadi dua yaitu secara fisik dan psikis. Penyebab fisik terjadi apabila tubuh kekurangan suatu zat yang bernama serotonin.
Tingkatkan Gairah Seksual Anda Di Sini!
Serotonin berfungsi untuk menghambat ejakulasi. Bila kadar serotonin dalam tubuh kurang atau tidak cukup, maka hal ini akan menyebabkan ejakulasi yang terlalu cepat. Faktor psikis seperti stres yang berkepanjangan ataupun pada pasangan yang baru menikah, yang biasanya masih gelisah ataupun terlalu banyak stimulasi atau rangsangan dapat menyebabkan ejakulasi dini.

Ejakulasi dini memberi pengaruh yang besar pada psikologis pria dan pasangannya, khususnya ejakulasi dini dalam stadium berat. Hal ini akan sangat mempengaruhi keharmonisan rumah tangga. Bila seorang pria sudah sampai pada tahap ini maka sebaiknya segera mencari pertolongan untuk mengatasi gangguan ejakulasi dini tersebut.

Ejakulasi dini sama sekali tidak berpengaruh terhadap kualitas sperma penderita dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesuburan pria.

Untuk mengatasi ejakulasi dini, pada prinsipnya terdapat tiga bagian terapi yang dapat dilakukan yaitu

    Terapi fisik
    Terapi psikologis
    Terapi medikamentosa (penggunaan obat-obatan)

Terapi fisik bertujuan untuk mengkondisikan tubuh dan pikiran pria agar dapat mengendalikan ejakulasi. Terapi ini dilakukan dengan bantuan pasangannya dengan cara membiasakan pria dengan ereksi dan mencegah terjadinya ejakulasi.
Terapi psikologis dilakukan bila kasus ejakulasi dini terjadi karena masalah psikologis dari pria, seperti perasaan canggung pada pasangan, kondisi pikiran yang sedang stres terhadap pekerjaan atau hal-hal lainnya. Bantuan dari seorang psikolog atau psikiater sangat diperlukan apabila penyebab psikologis ini tidak dapat dihilangkan dan menetap terus menerus.

Terapi menggunakan obat pada ejakulasi dini dapat dilakukan dengan dua jenis obat, yaitu obat yang diminum atau sejenis obat yang dioleskan pada penis yang bertujuan untuk mengurangi kepekaan rangsangan pada penis sehingga ejakulasi tidak cepat terjadi.

Obat yang diminum, salah satunya bekerja dengan cara mengatur kadar serotonin dalam tubuh sehingga ejakulasi tidak cepat terjadi. Apapun terapinya, sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter ahli sehingga terapi dan pendekatan pengobatan dapat tepat guna dan efektif.
Continue reading ...

Ejakulasi Dini, Atasi dengan 3 Cara ini!

0 komentar
Setiap pasangan pasti mendambakan hubungan seks yang luar biasa. Baik itu dilakukan di dalam ruangan atau yang memiliki fantasi sedikit ‘nyleneh’ dengan melakukannya di luar ruangan. Semua sah-sah saja dilakukan, asalkan kedua pasangan mencapai kepuasan saat berhubungan seks.


Namun, ada masalah yang kerap menggangu pasangan yang ingin pengalaman baru dalam berhubungan seks, yaitu ejakulasi dini. Masalah ini memang kerap menyerang para pria, tapi para wanita juga ikut merasakan imbasnya.

Pada dasarnya tidak ada batasan waktu seberapa lama orang dapat mencapai orgasme. Hubungan seks yang hebat dapat dicapai bila kedua pasangan sama-sama merasakan orgasme. Dan bila para pria mengalami orgasme di awal permainan (ejakulasi dini), bisa jadi para wanita tidak memiliki kesempatan untuk bercinta hingga mencapai orgasme.

Selain membuat para lelaki merasa minder, ejakulasi dini juga membuat pasangan Anda tidak terpuaskan, sehingga berisiko mengalami ketidakharmonisan dalam hubungan.

Banyak obat-obatan yang menawarkan cara tepat mengatasi ejakulasi dini. Namun, ada 3 cara alami yang lebih aman dan bebas efek samping untuk mengatasi masalah ejakulasi Anda seperti dilansir Menshealth.

    Berhenti Mendadak

Teknik ini bisa dilakukan saat Anda mulai mendekati ejakulasi. Caranya, saat Anda merasa akan ejakulasi hentikan semua gerakan. Bila perlu keluarkan penis Anda dan jauhkan dari Ms V pasangan. Jika ini dilakukan, maka tubuh akan mengalami anti klimaks dan Anda bisa mulai permainan ini dari awal. Lakukan beberapa kali hingga pasangan Anda mengalami orgasme terlebih dahulu.

    Remas Penis Anda

Sedikit ekstrim memang. Tapi cara ini juga terbukti ampuh mengatasi ejakulasi dini. Caranya, saat Anda mendekati ejakulasi segera keluarkan penis Anda dan remas bagian pangkal kepalanya. Jangan meremasnya terlalu keras. Pastikan saja bahwa remasan Anda cukup untuk menunda ejakulasi Anda.

    Gunakan Kondom

Selain menjadikan seks Anda lebih sehat, menggunakan kondom juga berguna dalam mengatasi ejakulasi dini. Menggunakan kondom dapat mengurangi sensitivitas dan sensasi geli yang dapat menyebabkan Anda ejakulasi lebih cepat. Sehingga Anda dapat bercinta lebih lama tanpa kahwatir mengalami ejakulasi dini.

3 hal di atas memang membutuhkan latihan dan adaptasi yang cukup sebelum Anda berhasil melakukannya. Namun dengan latihan yang cukup, Anda akan mendapatkan kepercayaan diri Anda kembali di atas ranjang. (dan)
Continue reading ...
 

Blogger templates

Blogroll

About

Copyright © Yang Masih Tabu Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger